Kamis, 04 Desember 2014

Perspektif dalam Ekonomi Politik Internasional

Dalam studi Hubungan Internasional ada berbagai macam perspektif dalam memandang fenomena-fenomena yang terjadi dalam lingkup internasional. Demikian halnya dalam studi Ekonomi Politik Internasional (EPI), dapat juga menggunakan beragam perspektif untuk menjelaskan fenomena-fenomena terkait masalah politik dan ekonomi internasional. Beberapa perspektif yang sering digunakan sebagai pendekatan utama dalam kaitannya dengan studi EPI yaitu perspektif liberalis, marxis, dan nasionalis.
            Perspektif liberalisme didasarkan pada asumsi bahwa manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang tidak suka konflik, mau bekerja sama, dan rasional (Gilpin, 1987:27). Berlandaskan asumsi dasar tersebut, pemikir liberal berpendapat bahwa kepentingan-kepentingan manusia rasional (manusia yang mampu berfikir untuk bertahan hidup), akan menimbulkan interaksi yang harmonis dimana kebutuhan manusia akan terpenuhi secara efektif dan efisien dengan syarat dalam proses tersebut tidak ada pihak yang mengintervensi. Kaum liberal menganggap pasar sebagai mekanisme paling tepat dalam pemenuhan kebutuhan manusia, karena disana manusia bebas untuk berinteraksi (membeli dan menjual) atas inisiatif mereka sendiri. Mekanisme pasar akan membuat roda pemenuhan kebutuhan manusia akan terus berputar karena harga menunjukan nilai kebutuhan sebuah barang (Gilpin, 1987:28). Terkait dengan permasalahan pasar, ada dua pendapat yang muncul dari para teoritisi liberalisme sendiri. Adam Smith menjelaskan tentang negara yang seharusnya tidak perlu mencampuri urusan pasar, biasa disebut Invisible Hand. Sedangkan Keynes mengemukakan bahwa negara terkadang perlu masuk kedalam pasar untuk menjaga keseimbangan pasar.
Perspektif nasionalisme merupakan bagian dari fase dalam sejarah kebijakan ekonomi, atau sebuah sistem tentang kebijakan ekonomi yang banyak dipraktekan oleh para negarawan Eropa dalam rangka menjamin kesatuan politik dan kekuatan nasionalnya. Sistem ini dikenal dengan sebutan the commercial or mercantile system, yang dipelopori Adam Smith, sehingga seringkali  pendekatan dari perspektif nasionalisme disebut juga dengan merkantilisme (Gilpin, 1987:32). Kaum merkantilis memiliki pandangan bahwa elit-elit politik berada pada garis depan pembangunan negara modern. Merkantilisme melihat perekonomian internasional sebagai arena konflik antara kepentingan nasional yang bertentangan daripada sebagai wilayah kerjasama yang saling menguntungkan. Merkantilisme melihat kekuatan ekonomi dan kekuatan politik sebagai tujuan yang saling melengkapi, bukan saling bersaing, dalam lingkaran arus balik positif. Pencapaian kekuatan ekonomi mendukung pengembangan kekuatan politik dan militer negara dan kekuatan politik dapat meningkatkan dan memperkuat ekonomi negara. Kaum merkantilis menyatakan bahwa perekonomian seharusnya tunduk pada tujuan utama peningkatan kekuatan negara, politik harus di utamakan daripada ekonomi. Tetapi isi dari kebijakan-kebijakan spesifik yang direkomendasikan untuk menjalankan tujuan tersebut telah berubah sepanjang waktu.
Secara garis besar sifat pokok dari perspektif merkantilisme ini diantaranya menitikberatkan pada perdagangan antar negara, hasrat untuk mencapai suatu kemakmuran, usaha untuk mengembangkan kekuasaan, serta hubungan yang erat antara kebutuhan akan kekuasaan dengan perdagangan maupun agama. Ringkasnya merkantilisme mengganggap perekonomian tunduk pada komunitas politik dan khususnya pemerintah. Aktivitas ekonomi di lihat dalam konteks yang lebih besar atas peningkatan kekuatan negara. Organisasi yang bertanggung jawab dalam mempertahankan dan memajukan kepentingan nasional yang di sebut negara, memerintah di ats kepentingan ekonomi swasta. Kekayaan dan kekuasaan adalah tujuan yang saling melengkapi bukan saling bertentangan. Ketergantungan ekonomi pada negara-negara lain seharusnya dihindari sejauh mungkin. Ketika kepentingan ekonomi dan keamanan pecah, kepentingan keamanan mendapat prioritas.
Perspektif Marxisme berkembang dari pemikiran filsuf ekonomi politik, Karl Marx. Salah satu teori yang mendasari kaum Marxis adalah dialektika materialisme, di mana secara umum, inti dari ajaran Marx adalah kritik terhadap perspektif liberal. Marxis lebih menekankan fokusnya pada aspek ekonomi dan materi dimana mereka membuat asumsi bahwa ekonomi lebih penting daripada persoalan-persoalan yang lain sehingga memungkinkan bagi peningkatan kelas sebagai fokus studi. Para pendukung Marxis memandang sistem internasional sebagai sistem kapitalis terintegrasi yang mengejar akumulasi modal (kapital) (Gilpin, 1987:35).
Dalam pandangan kaum Marxis, kehidupan ekonomi berada pada urutan pertama, sedangkan politik di tempat kedua. Karenanya,  dalam kehidupan sebuah negara, kepentingan dan isu-isu ekonomi menjadi isu-isu yang penting dan sangat menentukan kepentingan yang ada dalam politik. Bahkan politik sebagian besar ditentukan oleh konteks sosial ekonomi dan negara bukanlah lembaga yang otonom bagi penganut Marxis. Demikian juga kelas-kelas sosial yang ada, borjuis  dan proletar, akan menentukan  kebijakan-kebijakan politik yang diambil sesuai dengan kepentingan kelas sosial yang berkuasa. Sehingga secara garis besar Marxis beranggapan bahwa perekonomian adalah tempat eksploitasi dan perbedaan antar kelas sosial, khususnya kaum borjuis dan kaum proletar. Hal itu berarti bahwa dalam perekonomian kapitalis, kaum borjuis akan menjadi kelas yang paling berkuasa.
Selain itu, kaum Marxis lebih menyetujui pandangan zero sum seperti pandangan merkantilis, di mana dalam suatu hubungan tidak akan ada keadaan yang win-win, melainkan selalu win-lose. Berbeda dari pandangan merkantilisme, kaum Marxis melihat studi ekonomi politik sebagai hubungan antar kelas dan bukan negara. Sebagai konsekuensinya, pembangunan kapitalis global bersifat tidak seimbang bahkan menghasilkan krisis dan kontradiksi, baik antar negara maupun antar kelas sosial. EPI marxis selanjutnya hirau pada sejarah tentang perluasan kapitalisme global, perjuangan antar kelas dan negara yang telah membangkitkan kebangkitan di seluruh dunia, dan bagaimana transformasi yang revolusioner dari dunia tersebut mungkin akan muncul.
            Kesimpulannya, setiap perspektif yang ada memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Bagaimana liberalis, nasionalis, dan marxis memiliki fokus serta pola pikir yang berbeda-beda. Namun diantara ketiganya, penulis lebih memilih nasionalis. Karena inti dari ekonomi dan politik walaupun berbeda satu sama lain, tetapi dalam kehidupan bernegara keduanya tidak dapat dipisahkan. Apalagi jika dikaitkan dengan konsep national power dari perspektif realisme bahwa ekonomi dan politik adalah 2 dari banyak aspek penyangga kekuatan nasional suatu negara. Negara yang memiliki ekonomi yang baik dan politik yang stabil secara tidak langsung situasi tersebut mendukung terpenuhinya kepentingan di aspek-aspek lain seperti sosial, serta militer.



Gilpin, Robert. (1987).”Three Ideologies of Political Economy”,dalam the Political Economy of International Relations, Princeton: Princeton University Press,pp.25-64.

Jackson, Robert and G.Sorensen.(1999). International Political Economy”, dalam Introduction to International Relations, Oxford: Oxford University Press,pp.175-216.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar