Terkadang
orang berpikir tuhan adalah pegawai
Disuruh-suruh
mengabulkan doa-doa pamrih pribadi
Yang
diucapkandengan mulut pedagang menagih janji
Saat
& bentuk kabulnya dibatasi
Tuhan
diberhalakan
Digambar
dengan gagasan-gagasan
Kalau
tetangganya membuat patung tuhan berlainan
Bertengkar
mereka & saling mengkafirkan
Orang
bikin tuhan-tuhanan
Bagai
robot yang digerakkan ke kanan ke kiri
Tombol ditekan,program harus dilaksanakan
Kalau robot macet,ia tak dipercaya &
dicampakan
̴Emha Ainin Nadjib̴
Semakin tinggi tumpukkan kekayaan
kita
Semakin serius tingkat kemiskinan
kita
Sebab,tanda bahwa seseorang itu
miskin ialah Apabila ia butuh
Tanda seseorang melarat adalah
jika terbukti bahwa ia serakah.
Tanda bahwa seseorangn itu fakir
ialah jika ia terbukti bernafsu untuk merampok,memonopoli & merebut apa
saja yang bukan miliknya
Hanya orang kaya yang bisa
kenyang oleh kesederhanaan.
yang sanggup memberikan apa saja
tanpa segan tanpa eman
̴Emha Ainin Nadjib̴
Di dalam hidup ini
Tak ada barang yang buruk
Yang ada hanyalah barang yang berada
Tidak pada tempatnya
Baik seperti apapun jika ditempatkan pada tempat
yang tidak tepat,
Dia akan menjadi keburukan.
Buruk seperti apapun jika ditempatkan di tempat
yang memang semestinya.
dia menjadi kebaikan
̴Emha Ainin Nadjib̴
Kebebasan bukan tujuan
Tapi
Jalan untuk menemukan
Batasan-batasan
̴Emha Ainin Nadjib̴
“Kalau Anda kain putih,kotoran sedebu akan
direwelin orang. Kalau ada gombal bosok, kotor seperti apapun tidak dianggap
kotoran. Tinggal Anda mau milih jadi kain putih atau gombal”
Peradaban Jawa sangat beraksentuasi ke
kebudayaan estetika atau“keindahan”, sementara “kebenaran” dan“kebaikan” adalah bagian dari rangkaian peradaban
keindahan Jawa, yang puncaknya adalah “mamayu hayuning bawana”: memperindah keindahan jagat
raya.
“ Engkau tidak wajib miskin, meskipun berhak
memilih miskin, sepanjang
kemiskinan itu memang fasilitas yang tepat
bagimu untuk mengkondisikan
kedekatanmu dengan Allah. Engkau juga tidak
dilarang kaya, sepanjang
kekayaanmu membuat setia dan cinta kepadaNya.
Tuhan memposisikan dirinya
pada manusia lemah, miskin dan serba kekurangan.
Maka cinta dan kesetiaan
kepada Tuhan adalah kasih saying kepada
orang-orang lemah. Sedemikian
rupa sehingga senja hidupmu kelak,kekayaan
termewah yang engkau miliki
bukanlah tumpukkan benda-benda,melainkan track
record kadar dan bukti
kasih sayangmu kepada kaum papa, yang membuatmu
tidak memiliki materi
apapun lagi di akhir hayatmu. Menjadi bayi
telanjang kembali pada detik-detik
menjelang maut, itulah sukses hidup yang
sempurna.”Emha Ainun Nadjib —
(Paparandang
Ate).
“ Hakikat dasar kehidupan setiap manusia adalah
lahir sendiri, hidup
berjamaah,
lalu mati sendiri. Sejak masih bayi, manusia secara naluriah
diajari
Tuhan untuk bekerja sama dengan ibunya, dengan pembantunya,
dengan
penjual susu, dan orang-orang lain. Berjamaah bukanlah kewajiban
melainkan
hakikat hidup.”Emha Ainun Nadjib pada Sarasehan
Masyarakat
Inti Plasma —
Dec 8th,
2013
11 notes
“ Ruwatan atau tahlukah artinya
penghancuran.
Penghancuran itu
merelakan
sesuatu pada suatu tahap
supaya
pada tahap berikutnya kita
dapatkan
kelahiran atau kematangan
baru.
Kalau padi terus kita pertahankan
sebagai
padi, tak akan kita dapatkan
nikmatnya
beras. Kalau beras tidak kita
relakan
hancur eksistensinya sebagai
beras,
kita tak akan bertemu nasi.”
Emha
Ainun Nadjib pada Upacara
Tahlukah
—
Dec 7th,
2013
2 notes
“ Kalau berkait dengan ijtihad jangan
pakai
kata ‘mati’. Semua
yang dibikin
manusia
boleh berubah dan mungkin
lebih
baik berubah. Tidak ada harga
mati.
Supremasi hukum jangan harga
mati,
karena hukum tidak bisa supreme.
Hukum
itu alat, yang supreme keadilan
dan
nurani kebaikan manusia. Itupun
jangan
harga mati sebab manusia tidak
bisa
adil. Yang ada adalah aspirasi
keadilan
di mana manusia terus berusaha
untuk
adil. Tidak ada suami-istri adil;
yang ada
adalah mencari keadilan
bersama.
Tidak ada cinta suami-istri;
yang ada
adalah mencari cinta antara
suami
dan istri menuju cinta Tuhan yang
sejati,
karena satu-satunya manusia
yang
bisa diandalkan adalah yang kita
pegangi
bajunya, yakni Rasulullah.”
Emha
Ainun Nadjib —
Dec 7th,
2013
3 notes
“ Kita perlu belajar pada Al-Fatihah.
Jangan
meminta sebelum memberi. Allah
tidak
menyuruh hambaNya sholat dan
puasa
sebelum memberikan alam
semesta
yang subur dan rizki yang
melimpah.
Negara jangan menyuruh
rakyat
bayar pajak sebelum
infrastruktur
terpenuhi. Inilah rumus
suami-istri;
suami jangan minta istrinya
melayani
sebelum dia penuhi tanggung
jawab
sebagai suami. Percintaan suami-
istri dimulai
dengan
Bismillahirrahmanirrahim,
suami memuji
istrinya.
Alhamdulillahirrabbil ‘alamin,
kalau
diterjemahkan secara horizontal
‘dia istriku wanita yang terpuji’.
Arrahmanirrahiim,
penuh kasih sayang
terhadapku.
Maliki yaumiddin, dia
sebenarnya
yang berkuasa atas hatiku.
Setelah
memuji, berikutnya adalah
penegasan
cinta. Kalau sudah, barulah
meminta,
ditunjukkan jalan yang lurus.”
Emha
Ainun Nadjib pada Maiyahan
Sekala
Selampung —
Dec 6th,
2013
8 notes
“ Anda harus menjadi orang merdeka
sehingga
punya sidik paningal
(kejernihan
dan ketepatan penglihatan).
Nanti
puncaknya adalah putus pamriksa
(ma’rifat), di mana Anda melihat sesuatu
sampai
ke ufuknya secara sangat jelas.
Jangan
sampai anda melangkah lebih
lanjut
sebelum meyakini kepastian
bahwa
solusi yang anda lakukan sudah
tepat.
Perkara gagal itu lain masalah,
tapi
ketepatan adalah nomor satu.”
Emha
Ainun Nadjib —
Oct
23rd,
2013
12 notes
“ Kalau di dalam dirimu masih ada yang
membebanimu,
kalau di dalam dirimu
masih
ada dirimu, masih ada yang
seharusnya
tidak membebanimu, maka
kamu tak
akan bisa terbang. Di dalam
dirimu
jangan ada dirimu. Kebanyakan
orang,
di dalam dirinya hanya ada
dirinya,
hanya ada ego dan
eksistensinya.
Kalau dirimu suwung,
berarti
yang ada di dalam dirimu
hanyalah
iradlah Allah.”
Emha
Ainun Nadjib —
Oct
22nd,
2013
13 notes
“ Jazz adalah pekerjaan untuk selalu
mencari
peluang-peluang yang belum
pernah
ada, selalu melakukan ijtihad
atau
jihad hati dan pikiran, mencari
kemungkinan-kemungkinan.
Dan itu bisa
terjadi
bukan hanya pada musik”
Emha
Ainun Nadjib —
Oct
21st,
2013
2 notes
“ Jangan pakai frame Anda kalau
memahami
hidup, karena frame-mu bisa
berubah
tiap jam. Anda harus mengambil
keputusan
supaya Anda bisa mulai
menghancurkan
dirimu yang sekarang
demi
menjadi dirimu yang besok.
Relakan
kehilangan beras karena dia
akan
menjadi nasi. Yang disebut yaumul
qiyamah
adalah kehancuran beras dan
kebangkitan
nasi. Banyak orang takut
kehilangan
beras, dia dekap beras itu
erat-erat,
maka tak pernah
didapatkannya
nasi.”
Emha
Ainun Nadjib —
Oct
20th,
2013
7 notes
“ Kekeliruan orang modern ialah
pemikirannya
digiring untuk selalu
menuju
keadaan yang dipersyarati oleh
standardisasi.
Sama seperti keris, kalau
distandardisasi
berarti dia bisa dibuat
di
pabrik. Padahal letak hebatnya keris
bukan pada
kerisnya tapi pada sang
Empu.
Kehebatan kebudayaan Indonesia
bukan
terletak pada ekspresi
budayanya,
tapi pada pelakunya.”
Emha
Ainun Nadjib —
Oct
19th,
2013
7 notes
“ Sekarang ini kebudayaan dan psikologi
sosial
manusia sudah mendegradasikan
kalimat-kalimat
Tuhan itu untuk
fakultas-fakultas
budaya. Jadi kalau
dapat
duit, alhamdulillah. Jadi
alhamdulillah
direndahkan. Padahal tidak
ada yang
tidak alhamdulillah, tidak ada
yang
tidak Allahu Akbar, tidak ada yang
tidak
masya Allah, tidak ada yang tidak
Subhanallah.”
Emha
Ainun Nadjib
Emha
Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak
Ndeso
Suatu
kali Emha Ainun Nadjib ditodong
pertanyaan
beruntun. "Cak Nun," kata
sang
penanya, "misalnya pada waktu
bersamaan
tiba-tiba sampeyan
menghadapi
tiga pilihan, yang harus dipilih
salah
satu: pergi ke masjid untuk shalat
Jumat,
mengantar pacar berenang, atau
mengantar
tukang becak miskin ke rumah
sakit
akibat tabrak lari, mana yang
sampeyan
pilih?"
Cak Nun
menjawab lantang, "Ya, nolong
orang
kecelakaan."
"Tapi
sampeyan kan dosa karena tidak
sembahyang?"
kejar si penanya.
"Ah,
mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab
Cak Nun.
"Kalau
saya memilih shalat Jumat, itu
namanya
mau masuk surga tidak ngajak-
ngajak.
Dan lagi belum tentu Tuhan
memasukkan
ke surga orang yang
memperlakukan
sembahyang sebagai
credit
point pribadi."
Bagi
kita yang menjumpai orang yang saat
itu juga
harus ditolong, Tuhan tidak
berada
di mesjid, melainkan pada diri
orang
yang kecelakaan itu. Tuhan
mengidentifikasikan
dirinya pada sejumlah
orang.
Kata
Tuhan:
kalau engkau menolong orang
sakit,
Akulah yang sakit itu. Kalau engkau
menegur
orang yang kesepian, Akulah
yang
kesepian itu. Kalau engkau memberi
makan
orang kelaparan, Akulah yang
kelaparan
itu.
Seraya
bertanya balik, Emha berujar,
"Kira-kira
Tuhan suka yang mana dari tiga
orang
ini. Pertama, orang yang shalat lima
waktu,
membaca al-quran, membangun
masjid,
tapi korupsi uang negara. Kedua,
orang
yang tiap hari berdakwah, shalat,
hapal
al-quran, menganjurkan hidup
sederhana,
tapi dia sendiri kaya-raya,
pelit,
dan mengobarkan semangat
permusuhan.
Ketiga,
orang yang tidak shalat, tidak
membaca
al-quran, tapi suka beramal,
tidak
korupsi, dan penuh kasih sayang?"
Kalau
saya, ucap Cak Nun, memilih orang
yang
ketiga.
Kalau
korupsi uang negara, itu namanya
membangun
neraka, bukan membangun
masjid.
Kalau korupsi uang rakyat, itu
namanya
bukan membaca al-quran, tapi
menginjak-injaknya.
Kalau korupsi uang
rakyat,
itu namanya tidak sembahyang,
tapi
menginjak Tuhan. Sedang orang yang
suka
beramal, tidak korupsi, dan penuh
kasih sayang,
itulah orang yang
sesungguhnya
sembahyang dan membaca
al-quran.
Kriteria kesalehan seseorang
tidak
hanya diukur lewat shalatnya.
Standar
kesalehan seseorang tidak melulu
dilihat
dari banyaknya dia hadir di
kebaktian
atau misa. Tolok ukur kesalehan
hakikatnya
adalah output sosialnya: kasih
sayang
sosial, sikap demokratis, cinta
kasih,
kemesraan dengan orang lain,
memberi,
membantu sesama.
Idealnya,
orang beragama itu mesti
shalat,
misa, atau ikut kebaktian, tetapi
juga
tidak korupsi dan memiliki perilaku
yang
santun dan berkasih sayang.
Agama
adalah akhlak. Agama adalah
perilaku.
Agama adalah sikap. Semua
agama
tentu mengajarkan kesantunan,
belas
kasih, dan cinta kasih sesama. Bila
kita
cuma puasa, shalat, baca al-quran,
pergi
kebaktian, misa, datang ke pura,
menurut
saya, kita belum layak disebut
orang
yang beragama. Tetapi, bila saat
bersamaan
kita tidak mencuri uang
negara,
meyantuni fakir miskin, memberi
makan
anak-anak terlantar, hidup bersih,
maka
itulah orang beragama.
Ukuran
keberagamaan seseorang
sesungguhnya
bukan dari kesalehan
personalnya,
melainkan diukur dari
kesalehan
sosialnya. Bukan kesalehan
pribadi,
tapi kesalehan sosial. Orang
beragama
adalah orang yang bisa
menggembirakan
tetangganya. Orang
beragama
ialah orang yang menghormati
orang
lain, meski beda agama. Orang yang
punya
solidaritas dan keprihatinan sosial
pada
kaum mustadh'afin (kaum tertindas).
Juga
tidak korupsi dan tidak mengambil
yang
bukan haknya. Karena itu, orang
beragama
mestinya memunculkan sikap
dan jiwa
sosial tinggi. Bukan orang-orang
yang
meratakan dahinya ke lantai masjid,
sementara
beberapa meter darinya,
orang-orang
miskin meronta kelaparan
TAKUT
JADI TUKANG BAKSO
Satu
lagi Klipping simpenan dari Cak Nun,
sebuah
renungan untuk intropeksi diri
Sebuah pengajian
yang amat khusyuk
di
sebuah masjid kaum terpelajar, malam
itu, mendadak
terganggu oleh suara
dari
seorang tukang bakso yang
membunyikan piring
dengan
sendoknya. Pak Ustad sedang
menerangkan
makna khauf, tapi bunyi
ting-ting-ting-ting yang berulang-ulang
itu
sungguh mengganggu konsentrasi
anak-anak muda
calon ulil albab yang
pikirannya
sedang bekerja keras.
Sebuah pengajian
yang amat khusyuk
di
sebuah masjid kaum terpelajar, malam
Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul
di
masjid ini untuk berpesta bakso !”
gerutu
seseorang.
“Bukan
sekali dua kali
ini dia
mengacau
!” tambah lain-nya, dan
disambung
– “Ya, ya,
betul !”
“Jangan marah, ikhwan….,”
seseorang
berusaha
meredakan kegelisahan, “ia
sekadar
mencari makan …..”
“Jangan-jangan sengaja ia berbuat
begitu!
Jangan jangan ia minan-nashara !”
sebuah
suara keras.
Tapi sebelum
takmir masjid bertindak
sesuatu,
terdengar suara Pak Ustad juga
mengeras:
“Khauf, rasa takut, ada
beribu-ribu
maknanya. Manusia belum
akan
mencapai khauf ilallah
selama ia
masih
takut kepada hal-hal kecil dalam
hidupnya.
Allah itu Mahabesar,
maka
barangsiapa takut hanya kepada-Nya,
yang
lain-lain menjadi kecil adanya…”
Tak usah
menghitung dulu ketakutan
terhadap
kekuasaan sebuah rezim atau
peluru militerisme politik.
Cobalah
berhitung dulu dengan tukang bakso.
Beranikah
Anda semua, kaum terpelajar
yang
tinggi derajatnya di mata
masyarakat, beranikah Anda menjadi
tukang
bakso ? Anda tidak takut menjadi
sarjana, memperoleh
pekerjaan dengan
gaji besar, memasuki rumah tangga
dengan rumah
dan mobil yang
bergengsi: tapi tidak takutkah Anda
untuk
menjadi tukang bakso ? Yakni
kalau
pada suatu saat kelak pada Anda
tak ada
jalan lain dalam
hidup ini
kecuali menjadi tukang bakso
?
Cobalah
wawancarai hati Anda sekarang
ini,
takutkah atau tidak?
Ingatlah bahwa
tak seorang tukang
bakso
pun pernah takut menjadi tukang
bakso.
Apakah Anda merasa lebih
pemberani
dibanding tukang bakso ?
Karena pasti
para tukang bakso
memiliki keberanian juga untuk menjadi
sarjana
dan orang besar seperti Anda
semua.
Suasana menjadi
senyap. Suara ting-
ting-ting-ting
dari jalan di sisi halaman
masjid
menusuk-nusuk hati para peserta
pengajian.
“Kita memerlukan baca istighfar lebih
dari
seribu kali dalam sehari,” Pak
Ustadz melanjutkan,
“karena
kita masih tergolong orang-
orang
yang ditawan oleh rasa takut
terhadap
apa yang kita anggap derajad
rendah,
takut tak memperoleh
pekerjaan di sebuah kantor, takut
miskin,
takut tak punya jabatan, takut
tak bisa
menghibur istri dan
mertua,
dan
kelak takut dipecat, takut tak
naik pangkat
. . . masyaallah, sungguh
kita
masih termasuk golongan orang-
orang
yang belum sanggup
menomorsatukan
Allah !..”(sumber : Emha
Ainun
Najib)
"Hidup
saya tidak lagi
mencari
uang tetapi uang yg saya
dapatkan
adalah konsekuensi logis dari
kerja
atau karya yang saya buat, buka
apa yang
saya kejar dan cari-cari"
jiwanya
seniman itu bagaikan
ruang
kosong, tak ada lemari
atau
kotak-kotak yang bisa
dipakai
untuk menyembunyikan
sesuatu,
segalanya tampak
jelas
dan jujur di mata
#CakNun
Anda tak
bisa menghakimi
ekspresi
seseorang hanya
dengan
melihat bunyi kata-
katanya,
melainkan Anda harus
perhatikan
nadanya, nuansanya,
letak
masalahnya #CakNun
politik
diciptakan dan
dimanifestasikan
berdasarkan
filosofi
dan tujuan untuk
menyediakan
kebahagiaan dan
kesejahteraan
bagi manusia,
tapi
yang terjadi adalah sama
sekali
kebalikannya #CakNun
orangtua
kita mengajarkan
suatu
nilai yang membedakan
dua
jenis anak, yang patuh
tanpa
reserve, yang pejah
gesang
nderek (hidup-mati
ikut),
disebut "anak baik-baik",
sedangkan
yang mencoba
rasional,
memilih otoritasnya,
meskipun
itu justru sejalan
dengan
"lorong keadilan"
disebut
"anak nakal"
#CakNun
aneh :
hukum negara
bertabrakan
dengan hak dasar
kemanusiaan,
dan keduanya
telah
tiba pada kondisi purik
(saling
membenci) yang susah
disembuhkan.
Tetapi, jalan
terang
tetap terlihat, setidak-
tidaknya
di cakrawala
pandangan
setiap orang yang
tak
mengenal putus asa
#CakNun
bukanlah
hidup kalau sekadar
untuk
mencari makan,
bukankah
sambil bekerja
seseorang
bisa merenungkan
suatu
hal, bisa berzikir dengan
ucapan
yang sesuai dengan
tahap
penghayatan atau
kebutuhan
hidupnya, bisa
mengamati
macam-macam
manusia,
bisa belajar kepada
sebegitu
banyak peristiwa...
Bisa
menemukan hikmah-
hikmah,
pelajaran dan kearifan
yang
membuat hidupnya
semakin
maju dan baik
#CakNun
dalam
pengadilan di Indonesia,
kadang
kita harus memilih
alternatif
yang terbaik di
antara
yang terkutuk, dengan
menyisakan
sedikit harapan
bahwa
hati nurani manusia
tidak
semuanya terdiri atas
buku
#CakNun
manusia
jangan menunggu
hancur
dulu baru insaf
#CakNun
kearifan-kearifan
agama harus
diterjemahkan
ke dalam sistem
nilai
pengelolaan sejarah,
kebudayaan
dan peradabannya
#CakNun
kreatifitas
berpikir orang
Barat
harus kita tiru,tapi ekses
dari
kebudayaan teknologis
yang
terlalumemanjakan
kebinatangan,
sebaiknya kita
cegah
sejak sekarang.Setiap
badan
perencanaan
pembangunan
harus melibatkan
para
agamawan, budayawan,
negarawan,
filosof,
seniman,orang-orang
kecil
awam
yang arif.... Kita jangan
hanya
dipimpin oleh tender-
tender
#CakNun
peraturan
dan undang-undang
tidak
slalu sama dengan
keadilan,
ia bahkan bisa saja
bertentangan
denganprinsip
keadilan.
Undang-undang
memiliki
relativitasnya sendiri
dan
tidak mutlak sebagaimana
firman
Tuhan #CakNun
hakikat
hidup bukanlah apa
yang
kita ketahui, bukan buku-
buku
yang kita baca atau
kalimat-kalimat
yang kita
pidatokan,
melainkan apa yang
kita
kerjakan, apa yang paling
mengakar
di hati, jiwa dan inti
kehidupan
kita #CakNun
menyepi
itu penting, supaya
kamu
benar-benar bisa
mendengar
apa yang menjadi isi
dari
keramaian
perjuangan
ialah perjuangan.
Sejarah
dan Tuhan tidak
mencatat
kemenangan atau
kekalahan,
tetapi yang dicatat
adalah perjuangan
itu sendiri
#CakNun
kebersihan
luas makananya,
kebersihan
ruang dan kampung
hanyalah
satu hal, hal lain
adalah
kebersihan jiwa manusia
itu
sendiri, kebersihan
pergaulan
antarmanusia,
baikpergaulan
sosial, pergaulan
ekonomi,
pergaulan politik dan
hukum
#CakNun
yang
menguasai dunia adalah
ketelamjuran
sistem-sistem
internasional
yang merupakan
lingkaran
setan yang
memenjarakan
manusia,
terutama
orang-orang kecil.
Apalagi
sistem-sistem besar itu
tidak
sungguh-sungguh untuk
manusia
dan kemanusiaan,
tetapi
untuk mitos-mitos yang
bernama
kemajuan,
modernisasi,
metropolitanisasi,
yang
keseluruhannya menjebak
manusia
dalam ketersesatan
filosofi,
keterjerembaban
politik
dan ekonomi serta
kebuntuan
budaya #CakNun
ada yang
bilang negeri ini
"negeri
selembar kertas",
masyarakat
kita "masyarakat
selembar
ijazah". silahkan
ngomel
sistem pendidikan kita
tidak
bermutu, kesempatan
berpendidikan
tidak paralel
dengan
kesempatan
memperoleh
kerja, atau
canangkan
proyek deschooling
society
(masyarakat tanpa
sekolah),
tapi pokoknya kalau
ndak
punya ijazah ya nasibnya
lebih
ndlahom (idiot, goblok,
otak tak
berisi) dibanding
dengan
yang punya ijazah
#CakNun
demokrasi
itu penuh ironi dan
ranjau
kalau manusia tak
menguasai
manajemen untuk
menggunakannya,
demokrasi
hanya
bisa menjawab beberapa
problem
hidup, tapi problem
yang
lain membutuhkan nilai
yang
lebih tinggi daripada
demokrasi
#CakNun
orang
boleh salah, agar dengan
demikian
ia berpeluang
menemukan
kebenaran dengan
proses
autentiknya sendiri
#CakNun
kalau
kita jadi negara industri
tidak
berarti bahwa segalanya
akan
beres, tak berarti kita
akan
terbebas dari kemiskinan,
kebodohan
atau kekejaman
kekuasaan.
Industri hanyalah
sebuah
cara di antara
kemungkinan
cara-cara lain
yang
dianggap bisa membantu
menyejahterakan
masyarakat
#CakNun
kematian
terkadang merupakan
kritik
terhadap kehidupan,
Tuhan
mengambil nyawa
seseorang
tak semata dalam
rangka
menyayangi orang itu
tapi
juga sekaligus memberi
peringatan
kepada semua yang
ditinggalkan
oleh almarhum
#CakNun
bukan
agama kalau turun ke
bumi
hanya untuk pandai
memerintah
dan melarang.
Sebelum
Adam dilarang makan
buah
khuldi, dia diberi
pelajaran
terlebih dahulu
mengenai
“nama benda-benda”,
mengenai
segala yang mesti
diketahuinya
dalam kehidupan
#CakNun
agama
diajarkan kepada
manusia
agar ia memiliki
pengetahuan
dan kesanggupan
untuk
menata hidup, menata
diri dan
alam, menata sejarah,
kebudayaan,
politik .... Tuhan
mengajarkan
kreatifitas
terlebih
dahulu #CakNun
agama
mengajarkan kepada
manusia
bagaimana
menumbuhka
iman, menyusun
pola-pola
pembangunan suatu
negeri,
mengatur politik dan
ekonomi,
termasuk juga
mengintensifkan
bidang-bidang
pendidikan
pada level mana pun
sedemikian
rupa sehingga
sedikit
peluang bagi anggota
masyarakat
untuk mengalami
kekecewaan
sosial ekonomi
serta
kebingungan psikologis
#CakNun
dunia
ini masih dipimpin oleh
orang
yang lebih memilih
kenyang
meskipun dijadikan
budak
daripada lapar tapi
bertahan
harga dirinya
#CakNun
apa
gunanya ilmu kalau tidak
memperluas
jiwa seseorang
sehingga
ia berlaku seperti
samudera
yang menampung
sampah-sampah?
Apa gunanya
kepandaian
kalau tidak
memperbesar
kepribadian
manusia
sehingga ia makin
sanggup
memahami orang lain?
#CakNun
kalau
para mahasiswa bercita-
cita
hendak menjadi pemimpin
bangsa,
sejak sekarang harus
berlatih
menampung bermacam-
macam
gejala manusia, di dalam
pergaulan
mereka tidak boleh
memakai
kerangka “menang-
kalah” apalagi memakai interes
egonya
belaka, melainkan
mempertimbangkan
kepentingan
bersama, dan
untuk
itu diperlukan kesabaran
dan
kearifan terhadap berbagai
kemungkinan
yang muncul dari
“rakyat” mereka,
tidak boleh
gemedhé
(merasa paling pintar,
sombong)
#CakNun
secara
filosofis, sesungguhnya
tak ada “orang besar” dan tak
ada “orang kecil” dalam takaran
pemilikan
ekonomi atau
perbedaan
status sosial
budaya.
Kecil dan besar hanya
terjadi
pada kualitas
kepribadian
#CakNun
hidup
ini sangat luas dan
dimensi-dimensi
persoalannya
tak
terhingga, untuk itu
diperlukan
bukan sekadar
wawasan
yang luas dan
pengetahuan
yang terus dicari
melainkan
juga kearifan dan
sikap
luhur yang konsisten dari
hari ke
hari #CakNun
orang
boleh kaya raya,
persoalannya
bagaimana
kekayaan
itu diperoleh,
kemudian
bagaimana sikapnya
terhadap
kekayaan tersebut.
Juga
kalau miskin! #CakNun
kalau
seseorang bersikap
kreatif
untuk menemukan apa
saja hal
baik yang bisa
dikerjakan
dalam hidup ini,
jam-jamnya
tidak akan sempat
ia
gunakan untuk sedih atau
meratap,
sebab sudah habis
untuk
melakukan pekerjaan-
pekerjaan
yang baik #CakNun
keceriaan
dan kenyamanan
hidup
tidak terlalu bergantung
pada
hal-hal di luar manusia
melainkan
bergantung pada
kekayaan
batin di dalam diri
manusia
#CakNun
“Yang lebih kalian cari bukanlah
kebaikan
melainkan kekayaan,
yang
lebih kalian buru bukanlah
keluhuran
melainkan
kenyamanan,
dan pada posisi
seperti
itu kalian selalu merasa
lebih
tinggi derajat dibanding
orang
kecil. Coba hitunglah
kehidupan
di sekitarmu, hitung
pula
dirimu sendiri, temukan
kemuliaan
di sekitarmu.
Belajarlah
membedakan mana
kemuliaan
dan mana kehinaan,
amatilah
mana orang yang luhur
dan mana
yang hina, mana yang
derajatnya
tinggi dan mana
yang
rendah. Pakailah mata
Allah
sebagai ukuran” #CakNun
“Kamu harus membedakan
konteks
perbedaan pendapat
dalam
politik dengan pergaulan
kemanusiaan.
Jangan
menganggap
pejabat pasti
jelek
dan rakyat biasa pasti
baik,
pandangan seperti itu
tidak
adil, ada urusan dan
konteksnya
sendiri-sendiri”
#CakNun
manusia
harus jernih
memandang
dan menilai
sesuatu,
boleh pakai cara
pandang
kelas, boleh agak
hitam-putih
tentang masalah
tertentu,
tapi harus selalu
dikembalikan
pada kerangka
pandang
yang lebih universal,
yang
melihat manusia sebagai
suatu
keutuhan, yang memiliki
kelebihan
dan kekurangan,
benar
sekaligus salah #CakNun
kata
ahli pedang, ilmu pedang
tertinggi
adalah kalau sudah
bisa
membelah kapas yang
melayang-layang
tanpa
mengubah
arah gerak kapas itu.
Aneh,
ujian tertinggi bagi
keahlian
pedang bukanlah baja
atau
batu karang melainkan
kapas.
Kekerasan yang telah
mencapai
puncaknya berubah
menjadi
kelembutan,
kelembutan
tak bisa dikalahkan
oleh kekerasan
#CakNun
kalau
seseorang menjadi
pemimpin,
ia tak sekadar
memimpin
masyarakat manusia,
tapi
juga memimpin masyarakat
makhluk
yang luas, ia memimpin
hak-hak
binatang, hutan,
lautan,
barang tambang .... di
situlah
antara lain terletak
kesalahan
ideologi
pembangunan
modern yang
merusak
alam, bahkan merusak
manusia
#CakNun
yang
penting bukan apakah kita
menang
ataukalah, Tuhan tidak
mewajibkan
manusia untuk
menang
sehingga kalah pun
bukan
dosa, yang penting
adalah
apakah seseorang
berjuang
atau tak berjuang
#CakNun
kebanyakan
orang tak bisa
tidur,
mereka hanya tertidur,
karena
sepanjang siang dan
malam
hari mereka diberati
oleh
dunia #CakNun
“Kamu punya ruang dalam
hatimu
untuk merasakan hati
para
mbambung (gelandangan),
sehingga
hatimu sedih, getir,
terimpit
seribu gunung,
sementara
orang-orang pandai
sibuk
dengan program-program
dan
omong besar di koran-
koran.
Tuhan tidak bertanya
padamu
apakah kamu mampu
menolong
mbambung atau
tidak,
tapi melihat apakah kamu
mencintai
orang lemah atau
tidak” #CakNun
manusia
diberi-Nya
kesanggupan
untuk beradaptasi
terhadap
bermacam situasi,
manusia
dikasih-Nya darah,
naluri
dan kecerdasan agar ia
tetap
saja mampu
menyelenggarakan
kebahagiaan,
meskipun dengan
suku
cadang yang terendah
nilainya
ia bisa menghasilkan
ramuan
kebahagiaan yang jauh
melebihi
taraf kebahagiaan
yang
dirajut dengan
kemewahan
#CakNun
para
pekerja agama tidak
mengantarkan
hakikat Tuhan
sebagai
Mahasubjek yang
penuh
rasa cinta, rasa sayang
dan
kesediaan tanpa batas
untuk
membahagiakan manusia
#CakNun
Tuhan
banyak diperkenalkan
oleh
pemimpin-pemimpin agama
sebagai “algojo” yang
kejam,
“polisi” yang
selalu curiga atau
“hantu” yang
kehadirannya di
hati
manusia selalu
menimbulkan
rasa waswas,
cemas,
ngeri dan penuh
ancaman.
Agama kurang
diperkenalkan
sebagai berita
gembira
dan janji cinta,
melainkan
sebagai tukang
cambuk,
pendera dan satpam
yang
otoriter #CakNun
anak-anak
muda tak bisa hanya
menggantungkan
diri akan jadi
pegawai
negeri, pembengkakan
populasi
penduduk akan makin
berbanding
terbalik dengan
penyediaan
lapangan kerja, jadi
yang
akan tegak hidupnya
adalah
orang-orang yang
bermental
wiraswasta, yang
tidak
priyayi, yang ulet dan
bersedia
bekerja keras
#CakNun
manajemen
adalah bagaimana tidak
punya
kerjaan tapi bisa nyekolahke anak-
anak. Itu
kan manajemen banget. Bagaimana
nggak
punya gaji tetap tapi bisa survive,
itulah
manajemen. Nek gajimu sakmene
digawe
ngene, dudu manajemen iku, tapi
kasir.”
“Manajemen itu bagaimana kita tidak punya
beras
tapi bisa bikin nasi. Kalau dalam Al-
Qur’an namanya min haitsu laa yahtasib.
Allah
memberimu rizqi melalui jalan dan
metode
yang di luar perhitunganmu. Dan itu
adalah
jaminan Allah setiap hari kepada
orang
yang selalu meletakkan hatinya dekat
dengan
Dia.”
“Allah itu bukan milik para ustadz. Allah
adalah
milik kita semua, Dia sangat dekat
sama
kita. Dia sangat lucu, penuh humor,
sangat
penuh kasih-sayang. Dia tidak
membutuhkan
sopan-santun yang pura-pura.”
“Maka di dalam dirimu jangan ada dirimu.
Dirimu
itu tidak penting.Kalau kamu ingin
jadi
orang penting, jangan pentingkan
dirimu.
Sekarang orang bekerja untuk self
image
building, maka dia menjadi orang
sangat
tidak penting. Pak Harto tidak pakai
metode
itu tapi karakternya lebih terbangun
daripada
orang yang setiap hari urusannya
image
building.”
Kadang-kadang
ketidaktahuan merupakan
rahmat.
Ada saat-saat di mana kita
sebaiknya
tidak tahu. Oleh karena itu
Allah
memberikan keterbatasan dimensi
kepada
manusia sehingga yang mampu
diinderanya
pun sangat terbatas. Begitu
masuk ke
dimensi berikutnya, manusia
akan
melihat warna dan bentuk yang sama
sekali
berbeda yang kita tak punya
perbendaharaan
kata untuk
menceritakannya.
ada
orang yang
dirahmati
Allah dengan kesepian, dan ada
orang
yang diazab Allah dengan
keuntungan
materi sangat banyak.
Materialisme
membuat pandangan kita
terbalik-balik
dalam mengenali mana
keuntungan
mana adzab
Wong
gedhe itu tidak kagetan. Tapi
sekarang
manusia dididik oleh televisi
untuk
menjadi sangat kagetan, untuk
sering
sekali meluarbiasakan hal-hal biasa
sehingga
akhirnya yang luar biasa itu tidak
ada
lagi.Ini adalah kebodohan yang
merupakan
bentuk adzab
Yang
merusak Indonesia adalah semakin
banyaknya
orang berilmu yang dihasilkan
sekolah-sekolah
modern. Semakin banyak
sarjana
justru semakin rusak. Ini bukan
berarti
bahwa kita tidak boleh sekolah,
tapi
harus punya kesadaran bahwa ada
yang
tidak benar dalam filosofi, komitmen
integralitas,
niat, dan kultur
pendidikannya
orang
Jawa mewariskan
kebesarannya
bukan melalui materi. Maka
tidak
ada peninggalan Majapahit karena
kebesarannya
tidak dilambangkan dengan
gedung-gedung
besar. Keraton Majapahit
hanya
berupa rumah banjar yang terbuat
dari
kayu. Bangunannya tidak penting-
penting
amat karena yang dipentingkan
oleh
orang Jawa adalah kualitas batinnya.
Orang
Jawa sekarang tidak kagum pada
apa yang
sebenarnya mengagumkan pada
dirinya.
Mereka kagum pada sesuatu yang
datang
dari luar yang sebenarnya sama
sekali
tidak mengagumkan
Islam
itu bukan pada megahnya masjid,
bukan
pada sorban dan jenggot. Meskipun
berangkat
dari niat baik supaya terlihat
seperti
Nabi Muhammad, tetapi dalam
dialektika
sosial budaya ini bisa
menimbulkan
penipuan-penipuan – yang
mungkin
tidak terlihat oleh mata tapi
tertangkap
oleh logika
Pengajian
itu bukan
kumpulan
orang-orang yang dekat dengan
Allah,
tapi justru mencarikan peluang-
peluang
kepada yang belum dekat untuk
bisa
mendekat. Kalau memang masih jauh
ya
jangan dipaksa
Belum
tentu orang yang
berpenampilan
santri lebih bisa berendah
hati dan
mengendalikan diri daripada yang
preman.
Jadi jangan sangka kalau orang
sudah
belajar agama otomatis dia lebih
baik
daripada orang lain. Sejauh saya
bergaul
dengan preman-preman, mereka
sangat
jujur dan tidak sok suci
gotong-royong
itu tidak bisa muncul
sendiri.
Dia hanya ada kalau di antara
mereka kehidupannya
saling aman dan
memuaskan
sehingga mau saling
menolong
orang
jahat
yang
berbuat curang itu jangan disebut
curang
karena kecurangan merupakan
sifat
alamiah manusia dari Tuhan. Setiap
manusia
pasti punya kecurangan-
kecurangan.Itu
bukan dosa.Yang dosa itu
kalau
kecenderungan itu diterapkan dalam
rangka
untuk berbuat jahat. Maka orang
yang
berbuat jahat kemudian melakukan
kecurangan,
itu bukan merupakan
kecurangan
tapi merupakan bentuk
kejahatan
hancurnya
Indonesia salah
satunya
adalah karena tidak
mendokumentasikan
dan tidak
menghormati
sejarahnya sendiri
Lebih
selamat
kalau
rakyat mencari pemimpin, bukan
menunggu
orang-orang yang menyodorkan
dirinya
untuk menjadi pemimpin. Rakyat
sebagai
pemegang kedaulatan kalau bisa mulai
belajar
untuk tidak meneruskan tradisi
kelalaian
membiarkan dirinya dipimpin oleh
“pemimpin setoran” dari perusahaan-
perusahaan
politik
Ibarat
kantor, Presiden adalah karyawan
rakyat
yang datang paling awal dan pulang
paling
akhir. Presiden siap menjadi orang
paling
sedih dibanding semua orang
ambil
wacana dari Agama: Presiden
adalah
orang yang paling berat hatinya
melihat
penderitaan rakyatnya, sementara ia
tidak
cengeng atas penderitaannya sendiri.
Hatinya
tidak tegaan kepada nasib orang
banyak.
Kalau Malaikat mendadak datang
mencabut
nyawanya, Presiden merintih:
“Rakyatku…
rakyatku… rakyatku…”, bukan
“Ibu…istriku…anakku….”
Adab
sosial Bangsa Jawa menemukan idiom
“manunggaling kawula lan Gusti”. Menyatunya
hamba
dengan Tuhan.
Bukan
hamba adalah rakyat, Presiden adalah
Tuhan.
Itu pemahaman manipulatif untuk
keperluan
feodalisme budaya dan kekuasaan
politik.
“Manunggaling kawula lan Gusti” bukan
rakyat
harus mematuhi dan melaksanakan
kehendak
Presiden
“Presiden” itu
suatu idiom di dalam bingkai
konsep
kenegaraan modern yang mengacu
pada
ideologi demokrasi. Demokrasi
menetapkan
suatu kebenaran bahwa tanah air
dan
lembaga Negara adalah hak milik rakyat.
Seseorang
diangkat menjadi Presiden pada
posisi
dimandati, dipinjami atau diamanati
sebagian
kedaulatan dalam batas ruang dan
selama
waktu tertentu. Maka tafsir feodal
“menyatunya hamba dengan Tuhan” tidak bisa
dipinjam
oleh pemikiran demokrasi untuk
mengabsolutkan
kekuasaan Presiden
Dengan
adanya Semar struktur kedaulatan
vertikal
dilengkungkan menjadi bulatan.
Kekuasaan
itu siklikal. Semar ada di titik
tertinggi
di bawah Tuhan, sekaligus di titik
terendah
bersama rakyat jelata. Dua titik itu
satu,
sehingga garis lurus vertikal itu menjadi
bulatan.
Sangat indah Sunan Kalijaga
mendisain
demokrasi
Isi
kepala Presiden adalah kesibukan mesin
penyejahteraan
rakyat, isi dadanya adalah
“rasa bersalah” karena belum maksimal
bekerja,
“rasa malu” karena
belum berhasil
seperti
yang seharusnya, serta “kerendahan
hati” kepada Tuhan dan rakyatnya
Presiden
adalah pengambil keputusan pertama
dan
utama untuk melangkahkan kaki menapaki
kegelapan.
Sebab manusia itu hidup dulu baru
mengerti,
bukan mengerti dulu baru hidup
Jika
engkau melembut, waktu tampak olehmu.
Jika
engkau meregang membesar, engkau
paham
kebesaran ruang, keluasan dan
ketidak-terbatasannya
tak terjangkau
olehmu.
Maka kuda-kuda terbaik bagi setiap
makhluk,
apalagi manusia, adalah kerendahan
hati.
Itulah ‘kesadaran debu’.
Tak bisa
kau tempuh gelapnya “rang” dengan
modal “merasa bisa”. Hari siangpun gelap.
Sebab
matahari bukan benar-benar bercahaya
sebagaimana
yang ilmu memerlukan. Matahari
hanya
mengantarkan kesadaran tentang
cahaya.
Orang menanam tak tahu panennya,
orang
berjualan tak tahu berapa calon
pembelinya.
Orang lahir tak tahu matinya
Gelar
Ustadz, Kiai, Habib, Gus, memancing
kesimpulan
umum bahwa orang tersebut
lebih
baik hidupnya daripada yang
diceramahi,
padahal kan belum tentu
Dalam
logika yang umum
berlaku,
dipahami bahwa posisi imam lebih
tinggi
daripada makmum.Padahal imam dipilih
oleh
makmum, bukan imam memilih siapa-
siapa
saja makmumnya.Maka makmum punya
hak yang
lebih tinggi
Agama
itu letaknya di dapur. Tidak masalah
mau
pakai wajan merk apa di dapur, yang
utama
adalah makanan yang disajikan di
warung
sehat. Maka ukuran keberhasilan
orang
beragama bukan pada sholat atau
umrohnya,
melainkan pada perilakunya
Kalau
pertimbangan perbuatan manusia
adalah
suka atau tidak suka, berarti dia
masih
bayi. Yang tinggi derajatnya adalah
ketika
dia ikhlas melakukan apa yang
memang
dibutuhkan untuk manfaat bagi
masyarakat
banyak, seberat dan setidak
enak
apapun. Ini merupakan tanda
dewasanya
manusia
Sekarang
orang banyak salah paham
sehingga
aliran gethuk membid’ahkan aliran
combro
atau memusyrikkan aliran kolak,
padahal
ketiganya sama-sama berasal dari
ubi.
Banyak ulama memperkenalkan gethuk,
kolak,
atau combro sebagai ubi sehingga
masyarakat
tertipu. Padahal tidak masalah
kita
ikut yang mana, yang penting kita sama-
sama
mencintai ubi
Manusia
yang mencari jati dirinya
harus
menyambung kepala dengan badan,
menjaga
akal dan hati dalam harmoni. Akal
harus
menemani hati
Maiyah
bukan Islam yang
menuntut
ummat manusia untuk berproses
menyatu
dengan Maha Asal Usulnya,
namun
hanya upaya mencerdasi kehidupan,
mengarifi
pengalaman, menjernihi
kenyataan,
menyetiai jalan dan
mengakurasi
tujuan — agar para pelakunya
mengistiqamahi
akad dan cintanya di jalan
Allah
yang dituntunkan oleh Rasulullah
satu
Dekade
belakangan ini Ummat Islam
Indonesia
diguyur racun, epidemi
kebodohan
berpikir, kedangkalan mata
pandang,
kekerdilan mental, kesempitan
jiwa,
mata kuda materialism, yang secara
keseluruhan
melahirkan watak-watak
primitivisme
dan ketidak-beradaban.
“Kalau Anda serius menyelidiki bahasa
sejati,
Anda akan menemukan bahwa sejak
berabad-abad
silam bangsa Indonesia
merupakan
bangsa hebat. Bangsa yang
seharusnya
kolaps tapi mampu bertahan,
bangsa
yang pendapatan perkapitanya
terendah
tapi makannya paling enak,
tertawanya
paling banyak, mobilnya paling
mewah.
Ada atau tidak ada pemerintah,
bangsa
Indonesia tidak masalah.”
Jangan
sampai Kiai, Ulama, Ustad itu
menjadi
profesi. Bahkan Guru juga jangan
jadi
profesi. Kalau guru itu dibayar bukan
karena
dia mencari bayaran, tapi karena
negara
bertanggung jawab terhadap
hidupnya
orang yang bekerja mendidik.
Konteksnya
bukan guru mencari bayaran,
konteksnya
adalah negara wajib menghidupi
pendidikan.
Negara wajib menghidupi
kesehatan
masyarakat, wajib menghidupi
agama
dan kebudayaan. Sekarang filosofi
konstitusi
kita sama sekali tidak
memperhitungkan
itu. (Emha Ainun Nadjib)
Alat
kedokteran, suntikan, alat untuk
operasi,
alat rontgen, gedungnya, dll itu
semua
memang butuh biaya dan itu harus
pemerintah
yang membiayai. Tetapi ketika
dokter
memeriksa pasiennya itu jangan
dihargai,
jangan dikomoditikan. Nanti
dokter
sebagai manusia artinya apa, darma
baktinya
apa, itu adalah peluang manusia
untuk
tetulung dan berkasih sayang kok
dipasang
harga. (Emha Ainun Nadjib)
Hanya
sunyi, yang sanggup
mengajarkan
kita, untuk tak
mendua
Kejahatan
adalah nafsu yang terdidik.
Kepandaian
seringkali adalah kelicikan yang menyamar.
Adapun
kebodohan, acapkali adalah kebaikan yang bernasib buruk.
Kelalaian
adalah itikad baik yang terlalu polos.
Dan
kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan
Cobalah
engkau beranjak dari kursi,
pergilah
ke cermin. Sejenak saja.
Tataplah
wajahmu, badanmu,pakaianmu, dan seluruh penampilanmu.
Setidaknya
engkau bisa menyadari satu hal saja: Bahwa
potongan
rambutmu yang seperti
itu ,
jenis dan warna baju dan
celanamu,
juga seluruh benda yang
menempel
di badanmu-semuanya-
adalah sesuatu
yang engkau pilih
sesuai
dengan kesenanganmu
Manusia
Indonesia tidak jera
ditangkap
sebagai koruptor, tetapi
berpikir
besok harus lebih matang
strategi
korupsinya. Mereka
melakukan
hal-hal melebihi saran
setan
dan ajaran iblis, pada saat
yang
sama bersikap melebihi Tuhan
dan Nabi
Wktu brhenti alam menanti. Tuhan kekasih akn mengakhiri.
Tumbuhny kesadaran krn kejernihan. Bangkitny kekuatan krn kebersamaan.
#caknun"
kerja keras itu tak akan mengubah nasib,tapi meyakinkan
Tuhan bahwa kita pantas menerima nasib baik yang kita inginkan. #Emha Ainun
Nadjib
"Kepandaian adalah kelicikan yang menyamar, Kebodohan
adalah kebaikan yang bernasib buruk" #CakNun #Oples"
Orang soleh tidak mencari Surga. Tapi Surga yang akan
mencarinya. #CakNun"
Suksesku bukan dari keuanganku tapi dari kegembiraanku
#caknun"
Wktu brhenti alam menanti. Tuhan kekasih akn mengakhiri.
Tumbuhny kesadaran krn kejernihan. Bangkitny kekuatan krn kebersamaan.
#caknun"
"Tidak bisa mengingat tuhan tanpa mengingat manusia,
tidak bisa mengingat manusia tanpa mengingat tuhannya" #CakNun"
"Bahwa kemenangan yg benar-benar kemenangan tidaklah
terjadi pada seseorang atas orang lain, melainkan atas dirinya sendiri"
#CakNun #Oples
"Fokus ibadah kita itu pahala atau Allah? Kalau kita
fokus pada Allah, kita tidak akan peduli ditempatkan di surga/neraka. #CakNun
"Tdk ada agama tanpa kesenian Tdk ada shalat tanpa
kekhusyukan Tdk ada shalat tanpa nada Tdk ada shalat tanpa irama #CakNun"
"Keburukan adalah kebaikan yang tidak diletakkan pada
ruang dan waktunya yang tepat" #CakNun"
"Tidak bisa mengingat tuhan tanpa mengingat manusia,
tidak bisa mengingat manusia tanpa mengingat tuhannya" #ean
urip rasah digawe angel,ra prlu ngnggo motivasi ESQ,pak
becak ra butuh motivasi iso mlaku kok. sinau y ayo sinau,kuliah y ayo kuliah
#caknun"
Kita ini tergolong bangsa yg amat lapar kekuasaan. Mungkin
krn yg kita kenal dlm tatanan budaya kita mmg hanya menguasai & dikuasai
#CakNun"
Makanan itu dikunyah dulu baru ditelan, begitu juga ilmu
informasi dll. #caknun"
Jika ingin bljr jadi org baik,jngn hanya belajar kpd
malaikat,tp belajar jg pada iblis #caknun
"Gak semua persoalan hidup bisa dipecahkan lewat akal
dan rasionalitas, karena tubuh seseorang terdiri dari jasmani dan rohani
#CakNun"
Orang yg disukai Tuhan adalah orang yg menilai dirinya
buruk,orang yg tidak ikhlas adalah orang yg menganggap dirinya baik-
#CakNun"
Muhammad bertanya, "Siapa temanmu?" Iblis
menjawab, "Para pemakan riba". Sangat jelas mappingnya di Indonesia.
#CakNun"
Semua manusia itu sama derajat dan haknya? Ya, semua manusia
sama derajatnya, kulit apapun, kecuali ketika mau pinjam duit di bank.
#CakNun"
Bangsa ini hrs berhenti memilih pemimpin krn kasihan. Cukup!
Nanti klo tdk perform, mau nurunin jg gak tega krn kasihan #CakNun"
Orang beragama ialah Orang yang punya solidaritas dan
keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). #CakNun"
Kebaikan itu kita
pandang sebagai sebuah kemewahan karena setiap hari kita berada di
tengah-tengah ketidak-baikan dan kesombongan #CakNun"
Urakan itu berarti berani men-talak kepentingan dunia dari
hatinya..Maka Di bagian bangunan kraton ada tempat "Pang-urakan"
#CakNun"
Tumpahkan hidup kepada semangat kerja, hasil hanya
anugerah-Nya. Krn itu sepi ing pamrih, tapi rame ing gawe. #Emha Ainun
Najib"
"seseorang menjadi ustadz bila dilegimitasi tivi",
hadist Bukhori tetangga Pak Muslim #humor #CakNun
"Kalau rumah kebakaran,kamu harus belakangan
menyelamatkan diri. Kalau musuh datang
menyerang, kamu harus berdiri paling depan untuk
menyongsongnya. Kalau panen
melimpah, kamu harus belakangan makan. Itulah Pemimpin"
#CakNun #Oples hal 23
"Pelajaran terpenting bagi calon pemimpin adalah
kesanggupan
menjadi rakyat. Barangsiapa sanggup menjadi rakyat yang
baik, itulah pemimpin yang baik.
Maksudnya, Sikap mental seorang pemimpin haruslah sikap
mental kerakyatan"
#CakNun #Oples hal 23
"Bahwa kemenangan yg benar-
benar kemenangan tidaklah
terjadi pada seseorang atas orang
lain, melainkan atas dirinya
sendiri" #CakNun #Oples hal 49
"Pemimpin yang terbaik adalah
yang paling memiliki penguasaan
diri untuk dipimpin. Maka seorang
Pendito Ratu haruslah a man of
nothing to loose. Tak khawatir
kehilangan apa-apa. Jangankan
harta benda, simpanan uang,
seribu perusahaan, tanah, gunung
dan tambang. Sedangkan dirinya
sendiripun sudah tak dimiliknya,
sebab telah diberikan kepada
Tuhan dan rakyatnya" #CakNun #Oples hal 50
"Sejarah adalah deretan episode
tentang siapa dalang siapa
wayang, dan sejarah mencatat Ki
Dalang menggenggam kaki tangan
wayang-wayang untuk pada suatu
hari dimasukkan dalam kotak"
#CakNun #Oples hal 59
"Biasanya yang paling serakah dan
paling memahami teori, metode,
dan praktek keserakahan adalah
orang-orang pandai!" #CakNun
#Oples hal 71
"Seseorang tidak akan
memperjuangkan perubahan dari
ketidakbenaran menjadi
kebenaran ketika yang harus ia
perlihara adalah kemapanannya
dalam ketidakbenaran" #CakNun
#Oples hal 169
Apa saja yang dipersembahkan kepada allah akan langsung
menjadimilik semua hambanya, itulah yang sebenarnya menjadi penjara bagisaya di
dunia ini
Bila
sebuah batu tergeletak di jalan
Bila
sebuah batu tergeletak di jalan
dan
ia membahayakan pemakai jalan
anda
memungutnya, dan mencari seseorng untuk membahas
apa
yang dapat kita perbuat agar batu tersebut bermanfaat
ITULAH ISLAM
Islam
adalah untuk menjaga kesuburan tiap sudut tanah
Untuk mengagumi gunung & laut yang luas,
atau sekedar untuk menyirami tanaman,
Untuk berenang dalamair sambil bersyukur kepada
allah
Islam adalah , bila ada satu mahkluk sedang
kelaparan,
Walau hanya ia seekor anjing
Anda merasa tidak enak karena kenyang seorang
diri
Maka anda lalu belajar untuk merasakan lapar,
Sebelum anda merasa layak disebut sebagai
saudara oleh orang-orang lapar
Islam adalah, ketika seseorang merasa haus
Bahkan bila ia adalah orang yang akan membunuh
anda,
Anda merasakan kehausannya
Dan berbagi air anda dengannya
Islam adalah
Ketika anda melihat seseorang dipinggirkan &
merasa sendirian
Anda menghampirinya dan mengucapkan salam
kepadanya
Islam adalah
Mencintai bahkan orang-orang yang membenci anda,
Dan memuji dengan bijak
Seseorang yang menganggap anda sebagai musuhnya
Islam adalah komunitas yang berdamai dengan
alam,
Sungai dan hutan,air dan daratan, gunung dan
laut semat
Yangmereka cintai seolah-olah isteri-isteri
mereka sendiri
Menjaga kesuburannya semata-mata dengan cinta
Islam adalah
Sebuah pemerintah yang menganggap rakyatnya
sebagai seorang isteri,
Saling menyayangi, bekerjasama dengan
keseimbangan kekuasaan antara yang satu dengan yang lain
Islam adalah keadaan dimana di kuat memahami
pentingnya si lemah
Dan si lemah tidak menikmati kelemahan dan
ketergantungannya
Salamberarti perdamaian
Islam berarti upaya untuk mencari, membangun,
dan menciptakan perdamaian
Humanitas islam berarti pengertian untuk saling
memanusiakan satu sama lain
Budaya islamadalah kedamaian pikiran dan hati
Perekonomian islam berarti tak seorangpun
kekurangan gizi dan tak seorang pun
Kelebihan gizi
Politik islam berarti demokrasi sejati dan jujur
Filosofi islam adalah keseimbangan antara
hak-hak azasi dan kewajiban-kewajiban
Azasi manusia
Salam berarti perdamaian
Islam berarti pembebasan menuju perdamaian
Islam berarti kerja emansipasi menuju kehidupan
yangpenuh kedamaian bagi semua
Manusia
Tanpa bantuan sastra komunikasi saya akan sangat
terbatas. Melaui satra saya dapat menemukan berbagai format komunikasi
dandengan cara ini saya dapat memelihara pandangan tentang kedalaman dimensi
kemanusiaan dan sosial, dimensi ini akan menjadi dangkal kalau kita hanya
memandangnya secara parsial melalui ekonomi, politikdan khusunya birokrasi
Memakai jilbab atau tidak bukanlah putusan tiap wanita.
Wewenangnya bias berasal dari setting kultural atau langsung dari kepatuhan
teologis.apa yang saya perjuangkan bukanlah pemakaian jilbab atau tidak, tetapi
hak setiap manusia untuk memilih. Perkenankanlah sayameminjam dan mangadaptasi
kata-kata chairil anwar, “bukanlah jilbab yang menyentuh hati saya...tetapi
ketidakmauan anda untuk membiarkan manusia untuk memilih.
Sayamerasa seolah-olah saya menulis dan mengajukan
hal-hal yang untuk itu saya berutang untuk hidup saya
Apa yang haruskitakerjakan hanyalah menunggu hasilnya.
Sambil menunggu kita dapat main kartu, membacaal-qur’anatau bermain dengan anak
kita. Sang pemberi tidak pernah kehabisan tenaga. Tuhan tidak pernah berakhir.
Masalahnya tergantung pada apakah saya tetap mengikuti dia atau tidak
Muhammad menolak tawaran allah untuk menjadi nabi yang
raja,ia memilih nabi yang jelata. salah satu perjuangan mendasar muslim adalah
menjadi manusia biasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar