Merkantilisme, liberalisme ekonomi, dan marxisme, merupakan tiga pendekatan
yang dianggap sebagai pendekatan utama di dalam ekonomi politik internasional
oleh sebagian besar penstudi hubungan internasional. Jika pada studi hubungan
internasional isu-isu yang dibahas terdahulu adalah mengenai perang dan damai
atau konflik dan kerjasama, maka dengan kemunculan ekonomi politik
internasional, isu bahasan bergeser ke dalam ranah isu kekayaan dan kemiskinan,
mengenai aapa yang di dapatkan di dalam sistem internasional oleh para aktor.
Merkantilisme, merupakan sebuah pendekatan yang memandang bahwa elit-elit
politik merupakan aktor utama dalam pembangunan negara modern. Pandangan utama
dalam pendekatan merkantilisme adalah ekonomi merupakan alat politik yang
digunakan sebagai dasar kekuasaan politik. Sehingga para penganut merkantilisme
beranggapan bahwa kegiatan ekonomi harus tunduk pada tujuan utama dalam
membangun negara yang kuat, hal ini tentu tidak terlepas dari asumsi bahwa
ekonomu merupakan alat politik bagi sebuah negara (Sorensen, 1999: 232).
Merkantilisme memandang perekonomian internasional sebagai ajang konflik karena
di dalamnya terdapat kepentingan-kepentingan yang bertentangan dibandingkan
sebagai arena kerjasama yang menguntungkan. Dengan kata lain, merkantilisme
melihat perekonomian internasional sebagai arena zero-sum game dimana
keuntungan negara dianggap sebagai kerugian bagi negara lainnya. Selain itu,
merkantilisme berasumsi bahwa kekayaan material negara perlu dikhawatirkan,
sebab melalui keuntungan ekonomi relatif yang dimiliki negara, maka negara
tersebut akan mampu memperkuat kekuatan politik dan militer untuk melawan
negara lain (Sorensen, 2005: 232).
Merkantilisme melihat terdapat dua bentuk persaingan ekonomi antarnegara,
yaitu benign mercantilism atau merkantilisme ramah, dimana negara
berupaya untuk memelihara kepentingan nasionalnya karena hal ini dianggap
sebagai unsur penting bagi keamanan dan ketahanan negara. Merkantilisme ramah
bersifat bertahan. Jenis kedua adalah malevolent mercantilism atau
merkantilisme jahat. berpandangan bahwa ekonomi internasional merupakan arena
imperialis, eksploitasi, serta perluasan nasional. Maka dari itu disebut dengan
merkantilisme yang bersifat agresif atau jahat (Gilpin, 1987: 234).
Dalam pendekatan merkantilisme ini negara dipandang sebagai aktor utama yang
berperan dengan tujuan utama meningkatkan kekuatan negara. Ekonomi dan politik,
yaitu kekayaan dan kekuasaan dinilai saling melengkapi satu sama lain. Melalui
kekayaan ekonomi, negara akan mampu meningkatkan power di dalam bidang
politik dan militer, begitu pula sebaliknya, melalui keuataan politik dan
militer, negara akan dengan mudah mendapatkan keuntungan ekonomi.
Pendekatan utama lain adalah liberalisme ekonomi. Liberalisme ekonomi muncul
sebagai kritik terhadap pendekatan Merkantilisme yang melihat ekonomi sebagai
alat politik negara untuk meningkatkan powernya. Pada pendekatan
liberalisme ekonomi, ekonomi dan politik cenderung menjadi dua komponen yang
terpisahkan. Meskipun para kaum liberalis beranggapan bahwa pasar tidak boleh
mengikutkan campur tangan pemerintah, namun hubungan antar ekonomi dan politik
ini tergambar secara implisit. Pasar dianggap muncul dan mengalami perluasan
secara spontan untuk memuaskan kebutuhan manusia. Adam Smith menyatakan bahwa
untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka pasar, uang, serta institusi ekonomi
tercipta. Pemikiran dasar mengenai sistem pasar sendiri ditujukan untuk
meningkatkan efisiensi ekonomi guna mensejahterakan manusia (Gilpin, 1987: 28).
Adam Smith sebagai bapak ekonomi liberal berpandangan bahwa ekonomi pasar
adalah sumber utama kemajuan, kerjasama, dan kesejahteraan. MEskipun tidak
secara eksplisit menjelaskan hubungan ekonomi dan politik, namun pernyataan dan
asumsi-asumsi dari leiberalis ekonomi ini sendiri cukup menggambarkan adanya
keterkaitan antara ekonomi dan politik dalam cakupan interrnasional. Smith
melihat bahwa campur tangan politik melalui peraturan negara akan menyebabkan
konflik dan kemunduran (Sorense, 2005: 235).
Jika pada pendekatan merkantilisme negara dianggap sebagai aktor utama yang
berperan dalam ekonomi politik internasional, pada pendekatan liebralisme
ekonomi, individu sebagai konsumen dan produsen menjadi aktor utama. Peran
negara di dalamnya hanya berfungsi untuk mencegah kegagalan pasar atau sebagai
penyedia barang publik saja. Kegiatan ekonominya bersifat positive sum game,
seiring perkembangannya, pasar merupakan arena kerjasama yang dapat meberi
keuntungan timbal balik bagi negara yang berpartisipasi di dalamnya.
Pendekatan ketiga adalah pendekatan marxisme. Jika liberalisme ekonomi
melihat perekonomian sebagai arena yang saling menguntungkan, berbeda dengan
mrxisme yang berpandangan bahwa perekonomian adalah arena eksploitasi manusia
dan perbedaan kelas. Hampir sama dengan merkantilisme yang memandang
perekonomian sebagai zero sum game, marxisme menggunakannya pada
hubungan antar kelas selain hubungan antar negara. Jika merkantilisme
menempatkan ekonomi sebagai alat politik, yang berarti poltiik memiliki posisi
di atas ekonomi, marxisme adalah kebalikannya. Marxisme menempatkan ekonomi di
atas politik. Di dalam perekonomian kapitlais, marxis melihat adanya du akelas
yang tercipta, yaitu borjuis dan proletar (Sorensen, 2005: 235-236).
Kapitalisme dianggap oleh kaum marxisme sebagaisebuah langkah kemajuan,
dimana buruh dapat menjual tenaganya dan memperoleh imbalan, selain itu
kapitalisme juga dipandang membuka jalan bagi revolusi sosial. Dominasi kaum
borjuis dalam perekonomian kapitalis ini dipandang juga memiliki kecenderungan
untuk mendominasi sektor politik. Jika pada merkantilisme negara sebagai aktor
utamanya dan pada liberalisme ekonomi individu merupakan aktornya, pada
marxisme negara dianggap tidak otonom, kegiatan ekonomi dan politik digerakkan
oleh kepentigan kelas-kelas penguasa. Selain itu kapitalisme dianggap bersifat
ekspansif, perluasan inilah menjadi salah satu bentuk globalisasi ekonomi,
dimana banyak perusahaan transnasional raksasa yang berkuasa (Sorensen, 2005:
240).
Pada intinya, pendekatan marxisme beranggapan bahwa aktor utama adalah
kelas-kelas. Bahwasanya kelas-kelas penguasa yang mendominasi salah satu sektor
juga akan mendominasi sektor lainnya. Dominasi kelas ekonomi akan juga
mendominasi sektor politik, dan fokus bahasan pada pendekatan marxisme ini
adalah seputar pembangunan kapitalis global yang menyebabkan krisis antar negara
dan juga antar kelas.
Ketiga pendekatan yang disebutkan di atas merupakan tiga pendekatan utama
dalam pembahasan ekonomi politik internasional. Ketiganya muncul sebagai reaksi
atas pendekatan lainnya. Merkantilisme melihat bahwa negara akan menggunakan
ekonomi sebagai alat poltiik yang mampu meningkatkan power bagi
negara. Liberalisme ekonomi berpandangan bahwa negara tidak seharusnya memberi
campur tangan pada perekonomian. Dan marxisme mngkritisi pandangan liberalisme
ekonomi yang melihat pasar sebagai arena kerjasama, marxisme lebih melihat
pasar sebagai arena eksploitasi kelas. Meskipun saling mengkritisi satu sama
lain, ketiga pendekatan ini memberikan alternatif-alternatif pandangan yang
variatif dalam melihat hubungan antar aekonomi dan politik internasional.
Referensi:
Gilpin, Robert. 1987. “Three Ideologies of Political Economy”, dalam
The Political Economy of International Relations. New Jersey:
Princetin University Press, pp.25-64.
Jackson, Robert & Sorensen, Goerg. 2005. Pengantar Studi Hubungan
Internasional. Oxford University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar