Kamis, 04 Desember 2014

Konsep dan Pengertian Ekonomi Politik Internasional


Studi tentang ekonomi politik internasional merupakan studi yang termasuk baru muncul. Krisis oil schock tahun 1970an telah memunculkan kesadaran bahwa politik dan ekonomi saling mempengaruhi (Dugis, 2013). Sebelum itu para akademisi ekonomi dan politik seringkali memisahkan keduanya. Para penstudi ekonomi percaya bahwa pasar terisolasi dari isu politik (Gilipin,2001; 77). Ekonomi politik internasional sendiri berusaha untuk mengemukakan bahwa sebenarnya ekonomi mempunyai keterikatan dengan power atau politik.
Negara dalam hubungannya dengan negara lain pasti berkeinginan untuk memenuhi kepentingannya. Untuk mencapai hal tersebut negara dapat memanipulasi kekuatan pasar untuk meningkatkan power dan pengaruh (Gilpin, 2001;78). Terbentuknya rezim sebagai alat untuk mengatur pasar turut menciptakan terpenuhinya kebutuhan politik suatu negara. Ketika rezim dapat mempengaruhi distribusi pendapatan maka negara berusaha untuk mempengaruhi desain dan fungsi dari institusi, hal ini untuk memenuhi kebutuhan politik, ekonomi, dan kepentingan lain. Maka studi ekonomi politik internasional mengasumsikan bahwa negara, MNC, dan aktor lainnya menggunakan power yang dimiliki untuk mempengaruhi nature dari rezim internasional. (Gilpin, 2001;78)
Setelah negara menggunakan powernya untuk mempengaruhi rezim internasional seperti WTO dan GATT maka telah terjadi pula kepentingan politik yang berhubungan dengan ekonomi. Gilpin (2001) dalam bukunya Global Political Economy mengungkapkan bahwa ekonomi politik internasional merupakan dinamika interaksi global antara pengejaran kekuasaan (politik) dan pengejaran kekayaan (ekonomi), yang terdapat hubungan timbal balik diantara keduanya. Pengertian lain mengenai ekonomi politik internasional diungkapkan oleh John Ravenhill yang mendefinsikan ekonomi politik internasional sebagai “field of enquiry”, yaitu sebagai suatu subjek permasalahan yang fokus utamanya adalah hubungan (interrelationship) antara kekuasaan publik dan pribadi dalam persoalan pengalokasian sumberdaya yang terbatas atau langka (Ravenhill,2008;21).
Ekonomi politik internasional sendiri secara sederhana dapat diartikan menjadi dua kata yaitu state (negara) dan market (pasar). Ketika terjadi hubungan timbal balik diantara keduanya maka ekonomi dan politik keduanya saling mempengaruhi. Namun pada perkembangannya politik mempengaruhi ekonomi lebih dominan (Dugis, 2013). Sebagai contoh adalah ketika kekuasaan membutuhkan ekonomi untuk memperkuat powernya. Terbentuknya rezim internasional adalah salah satu contoh nyata. Di satu sisi rezim internasional dibutuhkan untuk mempertahankan dan menstabilkan ekonomi internasional namun di lain sisi muncul kritik terhadap rezim internasional. Susan Strange mengkritik bahwa teori rezim berada pada passing fad, dan paling buruk merupakan legitimasi Amerika untuk melanjutkan dominasi pada ekonomi dunia (Gilpin, 2001;85)
Terlepas dari perdebatan mengenai rezim internasional tersebut kita kembali ke ekonomi politik internasional. Para akademisi rata rata akan setuju bahwa ekonomi politik internasional memiliki “state of art” didalamnya. Ekonomi politik internasional sebagai suatu studi yang termasuk baru memiliki keunikan dan nilai seni tersendiri. State of the art disini penulis artikan sebagai pemanfaatan teori ekonomi politik internasional yang dapat teraplikasikan secara nyata. Apakah studi ini mampu untuk menyelesaikan masalah-masalah baru yang muncul. Dan dari pertanyaan ini maka dapat dikatakan ekonomi politik internasional mempunyai state of the art didalamnya.
Studi ekonomi politik internasional bagaimanapun juga telah menyadarkan banyak akademisi bahwa sebenarnya politik dan ekonomi keduanya sangat berkaitan. Dengan politik maka ekonomi dapat dikuasai. Disini penulis kembali mengambil dua kata kunci yang menekankan ekonomi politik internasional sebagai state of the art. Yaitu negara dan pasar. Ketika negara berusaha secara maksimal mengendalikan pasar untuk kepentingannya maka telah terjadi hubungan antara politik dan ekonomi. Kemudian melalui studi ekonomi politik internasional ini maka orang akan disadarkan bahwa kegiatan ekonomi suatu negara bisa jadi dibaliknya terdapat motif politik. Sehingga manfaat nyata dari studi ini adalah kita dapat mempelajari berbagai interaksi bagaimana kekayaan atau sumberdaya didistribusikan. Dan letak seninya menurut penulis lebih kepada interaksi aktor aktornya dalam mempengaruhi pasar.
Selanjutnya sebagai awal pembahasan studi ekonomi politik internasional maka akan muncul pertanyaan mendasar apakah perbedaannya dengan ekonomi politik ? Pertanyaan ini secara cukup jelas diungkapkan oleh Robert Gilpin dalam bukunya Global Political Economy. Gilpin (2001) mengungkapkan bahwa inti dari studi ekonomi politik adalah bagaimana ilmu pengetahuan yang ada dapat digunakan negara sebagai sarana untuk memperkaya diri. Sedangkan ekonomi politik internasional fokus utamanya adalah memahami bagaimana interaksi pasar dan aktor politik internasional. Dari dua pengertian tersebut maka dapat secara jelas dibedakan antara ekonomi politik internasional dan ekonomi politik. Ekonomi poilitik hanya mempelajari dalam ruang lingkup negara, bagaimana cara agar negara dapat menambah kekayaannya, sedangkan ekonomi politik internasional memiliki ruang lingkup lebih besar dimana akan dipelajari interaksi aktor aktor dalam usahanya untuk meningkatkan ekonomi.
Kesimpulannya bahwa studi ekonomi politik internasional akan sangat bermanfaat bagi kita untuk mempelajari interaksi aktor-aktor negara dan bahwa pada kenyataannya politik dan ekonomi saling bersinggungan. Sebagai contoh adalah ketika Indonesia diminta IMF untuk memberikan pinjaman dana. Dihitung secara ekonomis maka hal tersebut tidak masuk akal. Bagaimana bisa negara Indonesia yang notabene masih negara berkembang dan banyak berhutang malah diminta untuk memberi pinjaman dana kepada IMF. Ternyata dibalik itu terdapat motif politik yang mempengaruhi. Indonesia yang tergabung sebagai negara G-20 ternyata diharuskan untuk memberi pinjaman dana karena dianggap sebagai 20 negara yang paling besar ekonominya di dunia. Dari contoh tersebut maka sedikit menjelaskan bagaimana politik dan ekonomi saling bersinggungan. Bahwa motif ekonomi saja ternyata tidak cukup untuk memahami interaksi antara negara-negara di dunia dibaliknya terkadang banyak sekali motif politik yang mempengaruhi.
Sumber :
Dugis, Vinsensio. 2013. Materi Kuliah Ekonomi Politik Internasional, Universitas Airlangga, Surabaya, 26 Februari.
Gilpin, Robert. 2001. “The New Global Economic Order”, dalam Global Political Economy: Understanding the International Economic Order, Princeton: Princeton University Press, pp. 3-24
Gilpin, Robert. 2001. “The Nature of Political Economy”, dalam Global Political Economy: Understanding the International Economic Order, Princeton: Princeton University Press, pp. 25-45
Gilpin, Robert. 2001. “The Study of International Political Economy”, dalam Global Political Economy: Understanding the International Economic Order, Princeton: Princeton University Press, pp. 77-102

Ravenhill, John. 2008. “The Study of Global Political Economy”, dalam John Ravenhill, Global Political Economy, Oxford: Oxford University Press, pp. 18-25

1 komentar: