Studi tentang ekonomi politik internasional
merupakan studi yang termasuk baru muncul. Krisis oil schock tahun 1970an telah
memunculkan kesadaran bahwa politik dan ekonomi saling mempengaruhi (Dugis,
2013). Sebelum itu para akademisi ekonomi dan politik seringkali memisahkan
keduanya. Para penstudi ekonomi percaya bahwa pasar terisolasi dari isu politik
(Gilipin,2001; 77). Ekonomi politik internasional sendiri berusaha untuk
mengemukakan bahwa sebenarnya ekonomi mempunyai keterikatan dengan power atau
politik.
Negara dalam hubungannya dengan negara lain pasti
berkeinginan untuk memenuhi kepentingannya. Untuk mencapai hal tersebut negara
dapat memanipulasi kekuatan pasar untuk meningkatkan power dan pengaruh
(Gilpin, 2001;78). Terbentuknya rezim sebagai alat untuk mengatur pasar turut
menciptakan terpenuhinya kebutuhan politik suatu negara. Ketika rezim dapat
mempengaruhi distribusi pendapatan maka negara berusaha untuk mempengaruhi
desain dan fungsi dari institusi, hal ini untuk memenuhi kebutuhan politik,
ekonomi, dan kepentingan lain. Maka studi ekonomi politik internasional
mengasumsikan bahwa negara, MNC, dan aktor lainnya menggunakan power yang
dimiliki untuk mempengaruhi nature dari rezim internasional. (Gilpin,
2001;78)
Setelah negara menggunakan powernya untuk
mempengaruhi rezim internasional seperti WTO dan GATT maka telah terjadi pula
kepentingan politik yang berhubungan dengan ekonomi. Gilpin (2001) dalam
bukunya Global Political Economy mengungkapkan bahwa ekonomi politik
internasional merupakan dinamika interaksi global antara pengejaran kekuasaan
(politik) dan pengejaran kekayaan (ekonomi), yang terdapat hubungan timbal
balik diantara keduanya. Pengertian lain mengenai ekonomi politik internasional
diungkapkan oleh John Ravenhill yang mendefinsikan ekonomi politik
internasional sebagai “field of enquiry”, yaitu sebagai suatu subjek
permasalahan yang fokus utamanya adalah hubungan (interrelationship) antara
kekuasaan publik dan pribadi dalam persoalan pengalokasian sumberdaya yang
terbatas atau langka (Ravenhill,2008;21).
Ekonomi politik internasional sendiri secara
sederhana dapat diartikan menjadi dua kata yaitu state (negara) dan market
(pasar). Ketika terjadi hubungan timbal balik diantara keduanya maka
ekonomi dan politik keduanya saling mempengaruhi. Namun pada perkembangannya
politik mempengaruhi ekonomi lebih dominan (Dugis, 2013). Sebagai contoh adalah
ketika kekuasaan membutuhkan ekonomi untuk memperkuat powernya. Terbentuknya
rezim internasional adalah salah satu contoh nyata. Di satu sisi rezim
internasional dibutuhkan untuk mempertahankan dan menstabilkan ekonomi
internasional namun di lain sisi muncul kritik terhadap rezim internasional.
Susan Strange mengkritik bahwa teori rezim berada pada passing fad, dan paling
buruk merupakan legitimasi Amerika untuk melanjutkan dominasi pada ekonomi
dunia (Gilpin, 2001;85)
Terlepas dari perdebatan mengenai rezim
internasional tersebut kita kembali ke ekonomi politik internasional. Para
akademisi rata rata akan setuju bahwa ekonomi politik internasional memiliki “state
of art” didalamnya. Ekonomi politik internasional sebagai suatu studi yang
termasuk baru memiliki keunikan dan nilai seni tersendiri. State of the art
disini penulis artikan sebagai pemanfaatan teori ekonomi politik internasional
yang dapat teraplikasikan secara nyata. Apakah studi ini mampu untuk
menyelesaikan masalah-masalah baru yang muncul. Dan dari pertanyaan ini maka
dapat dikatakan ekonomi politik internasional mempunyai state of the art
didalamnya.
Studi ekonomi politik internasional bagaimanapun
juga telah menyadarkan banyak akademisi bahwa sebenarnya politik dan ekonomi
keduanya sangat berkaitan. Dengan politik maka ekonomi dapat dikuasai. Disini
penulis kembali mengambil dua kata kunci yang menekankan ekonomi politik
internasional sebagai state of the art. Yaitu negara dan pasar. Ketika
negara berusaha secara maksimal mengendalikan pasar untuk kepentingannya maka
telah terjadi hubungan antara politik dan ekonomi. Kemudian melalui studi
ekonomi politik internasional ini maka orang akan disadarkan bahwa kegiatan
ekonomi suatu negara bisa jadi dibaliknya terdapat motif politik. Sehingga
manfaat nyata dari studi ini adalah kita dapat mempelajari berbagai interaksi
bagaimana kekayaan atau sumberdaya didistribusikan. Dan letak seninya menurut
penulis lebih kepada interaksi aktor aktornya dalam mempengaruhi pasar.
Selanjutnya sebagai awal pembahasan studi ekonomi
politik internasional maka akan muncul pertanyaan mendasar apakah perbedaannya
dengan ekonomi politik ? Pertanyaan ini secara cukup jelas diungkapkan oleh
Robert Gilpin dalam bukunya Global Political Economy. Gilpin (2001)
mengungkapkan bahwa inti dari studi ekonomi politik adalah bagaimana ilmu
pengetahuan yang ada dapat digunakan negara sebagai sarana untuk memperkaya
diri. Sedangkan ekonomi politik internasional fokus utamanya adalah memahami
bagaimana interaksi pasar dan aktor politik internasional. Dari dua pengertian
tersebut maka dapat secara jelas dibedakan antara ekonomi politik internasional
dan ekonomi politik. Ekonomi poilitik hanya mempelajari dalam ruang lingkup
negara, bagaimana cara agar negara dapat menambah kekayaannya, sedangkan
ekonomi politik internasional memiliki ruang lingkup lebih besar dimana akan
dipelajari interaksi aktor aktor dalam usahanya untuk meningkatkan ekonomi.
Kesimpulannya bahwa studi ekonomi politik
internasional akan sangat bermanfaat bagi kita untuk mempelajari interaksi
aktor-aktor negara dan bahwa pada kenyataannya politik dan ekonomi saling
bersinggungan. Sebagai contoh adalah ketika Indonesia diminta IMF untuk
memberikan pinjaman dana. Dihitung secara ekonomis maka hal tersebut tidak
masuk akal. Bagaimana bisa negara Indonesia yang notabene masih negara
berkembang dan banyak berhutang malah diminta untuk memberi pinjaman dana
kepada IMF. Ternyata dibalik itu terdapat motif politik yang mempengaruhi.
Indonesia yang tergabung sebagai negara G-20 ternyata diharuskan untuk memberi
pinjaman dana karena dianggap sebagai 20 negara yang paling besar ekonominya di
dunia. Dari contoh tersebut maka sedikit menjelaskan bagaimana politik dan
ekonomi saling bersinggungan. Bahwa motif ekonomi saja ternyata tidak cukup
untuk memahami interaksi antara negara-negara di dunia dibaliknya terkadang
banyak sekali motif politik yang mempengaruhi.
Sumber :
Dugis, Vinsensio. 2013. Materi Kuliah Ekonomi
Politik Internasional, Universitas Airlangga, Surabaya, 26 Februari.
Gilpin, Robert. 2001. “The New Global
Economic Order”, dalam Global Political Economy: Understanding the
International Economic Order, Princeton: Princeton University Press, pp.
3-24
Gilpin, Robert. 2001. “The
Nature of Political Economy”, dalam Global Political Economy:
Understanding the International Economic Order, Princeton: Princeton
University Press, pp. 25-45
Gilpin, Robert. 2001. “The
Study of International Political Economy”, dalam Global Political
Economy: Understanding the International Economic Order, Princeton:
Princeton University Press, pp. 77-102
Ravenhill, John. 2008. “The Study of Global
Political Economy”, dalam John Ravenhill, Global Political Economy,
Oxford: Oxford University Press, pp. 18-25
cy548 replica bags designer ml395
BalasHapus