Negara dan pasar di dalam perkembangannya keduanya menjadi dua komponen yang
tidak terpisahkan. Hal ini merujuk pada sektor politik yang dapat
direpresentasikan melalui negara dan ekonomi yang dapat direpresentasikan
melalui pasar, yang tentu tidak dapat dipungkiri saling berhubungan satu dengan
yang lainnya. Pasar masa kini berjalan berdasarkan aturan-aturan politik, dapat
dilihat dengan adanya peran negara dalam mengatur jalannya pasar. Jika ditilik
kembali, ekonomi adalah hal yang erat kaitannya dengan pencapaian kekayaan,
sedangkan politik erat kaitannya dengan pencapaian kekuasaan atau kekuatan. Dalam
lingkup internasional sendiri, negara dan pasar, adalah inti dari ekonomi
politik internasional (Sorensen, 2005: 288).
Sebelum
membahas lebih dalam mengenai politik internasional, ada baiknya untuk
mengetahui ekonomi politik terlebih dahulu. Ekonomi politik, menurut Adam
Smith (Gilpin, 2001: 25) adalah “branch of science of a statesman or
legislator” dan merupakan panduan pengaturan ekonomi nasional. John Stuart
Mill beranggapan ekonomi politik sebagai sebuah ilmu yang mengajarkan bagaimana
sebuah bangsa untuk menjadi kaya. Di dalam perkembangannya, ekonomi politik
diartikan sebagai perluasan lingkup studi ekonomi oleh para ekonomis
profesional, seperti Chicago School. Dengan kata lain, ekonomi politik
dilihat sebagai metodologi individualisme atau tindakan-tindakan rasional aktor
yang mempengaruhi perilakunya sebagai bentuk upaya memaksimalkan kepentingan
pribadinya. Dimana metodologi tersebut akan mampu menjelaskan institusi sosial,
kebijakan publik, dan bentuk-bentuk lain dari kegiatan sosial yang sebelumnya
tidak termasuk di dalam lingkup bidang ekonomi (Gilpin, 2001: 26-27).
Inti dari
pendekatan pada institusi sosial dan hal-hal sosiopolitik yang dilakukan oleh
para penstudi ini mengarah pada asumsi bahwa individu bertindak secara sendiri
maupun berkelompok melalui institusi sosial dan mempromosikan tujuannya guna
mewujudkan kepentingan pribadinya. Namun di sisi lain, para sarjana juga
beranggapan bahwa di dalam ekonomi politik, individu berupaya untuk membentuk
institusi sosial yang dapat berpengaruh pada kebijakan, khususnya pada bidang
ekonomi. Para ekonomis neoklasikal merujuk pada istilah rent-seeking
behavior dari individu dan kelompok untuk menjelaskan ekonomi
politik (Gilpin, 2001: 27).
Dinamika
ekonomi dunia, khususnya yang terjadi pada tahun 1992, dimana pada saat itu
terjadi devaluasi mata uang negara-negara benua Eropa. Meningkatnya integrasi
pasar keuangan global menyebabkan pemerintah nasional menyerahkan sebagian
otonomi ekonominya kepada pasar global. Para pengamat meyakini bahwa krisis
1992 tersebut merupakan puncak transnasional globalisasi ekonomi diantara
negara-negara dunia (Gilpin, 2001: 37). Interaksi pasar dengan kebijakan negara
menjadi pendorong bagi jalannya ekonomi dunia yang merupakan subjek bahasan
pada ekonomi politik internasional.
Lebih lanjut mengenai ekonomi politik internasional, fokus bahasan terletak
pada interaksi pasar dan aktor-aktor politik di dalamnya. namun studi ekonomi
sendiri tidak cukup untuk menjelaskan isu-isu vital di dalam distribusi
kekayaan dan aktivitas ekonomi internasional, hingga dampak dari ekonomi dunia
terhadap kepentingan nasional, serta keefektifitasan rezim-rezim internasional.
Hal ini harus dilihat dari batas-batas politik negara, yang nantinya akan dapat
menggambarkan kebijakan ekonomi satu negara terhadap negara lainnya.
Pertimbangan politik suatu negara tentu saja akan mempengaruhi dan membedakan
kegiatan ekonomi di suatu negara dengan negara lainnya secara signifikan.
Negara, seperti yang diketahui, merupakan aktor yang memiliki kekuatan besar di
dalam konstelasi internasional, akan mampu menggunakan powernya untuk
memanipulasi atau mempengaruhi kegiatan ekonomi guna memaksimalkan kepentingan
ekonomi serta politiknya (Gilpin, 2001: 102).
Bahasan di dalam studi ekonomi lebih banyak mengarah pada efisiensi atau
keuntungan bersama yang di dapat melalui pertukaran ekonomi, sedangkan ekonomi
politik internasional (EPI) banyak membahas isu-isu yang lebih luas dari itu.
Pembahasan EPI akan lebih tertuju pada bagaimana ekonomi dunia mmemiliki dampak
pada kekuasaan dan otonomi politik negara. Negara dilihat sebagai sebuah
entitas yang memiliki kewenangan untuk bertindak melindungi kepentingannya, dan
negara juga dapat memanipulasi pasar dalam rangka meningkatkan power
dan mempengaruhi lawan ataupun membantu negara lainnya.
Di dalam ekonomi politik internasional terlihat jelas adanya pertentangan
antara meningkatnya interdependensi dari ekonomi internasional dengan keinginan
negara untuk me-maintain ketergantungan ekonomi dan otonomi
politiknya. Karena, pada saat yang bersamaan, negara menginginkan keuntungan
yang maksimal dari perdagangan bebas yang dilakukan dengan negara lain, namun
di sisi lain negara juga ingin melindungi otonomi politik, nilai kebudayaan,
serta struktur sosial yang dimilikinya (Gilpin, 2001: 80). Dapat dikatakan
bahwa kegiatan negara berjalan melalui logika sistem pasar, dimana pasar
diperluas secara geografis dan kerjasama antar negara di berbagai aspek
diperluas melalui mekanisme harga, inilah ekonomi politik internasional.
Ekonomi dunia berjalan dan berkembang seiring dengan meningkatnya interaksi
negara di dalamnya. Stabilitas ekonomi dunia, seperti dalam bidang keuangan dan
moneter internasional akan dapat berjalan stabil apabila terdapat negara
hegemon yang mampu mengaturnya. Untuk itu terciptalah rezim internasional
sebagai salah satu perwujudan negara hegemon dalam mengatur permasalahan
ekonomi. Rezim merupakan wadah kooperasi, pemberi solusi, bahkan sebagai bentuk
paksaan bagi negara yang menolak untuk tunduk pada tatanan ekonomi
internasional (Gilpin, 2001: 98).
Sebetulnya untuk membedakan ekonomi politik dengan ekonomi politik
internasional terletak pada lingkup bahasannya. Pada ekonomi politik, fokus
bahasan akan lebih banyak tertuju pada hubungan atau interaksi pasar dengan
pemerintah di dalam lingkup domestik, sedangkan di dalam ekonomi politik
internasional, yang menjadi fokus adalah tindakan-tindakan negara sebagai aktor
politik dalam mempengaruhi pasar dan kegiatan ekonomi lainnya dalam rangka
mewujudkan kepentingannya, tindakan ini tentu saja akan berhubungan dengan
negara-negara lain di dalam dunia internasional. Selain ruang lingkupnya, aktor
yang terlibat juga dapat dibedakan. Di dalam ekonomi politik, individu cukup
untuk merepresentasikan aktor yang terlibat di dalam interaksi pasar. Sedangkan
di dalam ekonomi politik internasional, negara menjadi aktor utama yang
menggerakkan jalannya pasar global melalui kebijakan, dimana hal ini tidak
hanya mempengaruhi negaranya sendiri namun juga berdampak pada negara lain.
Di
samping ruang lingkup dan aktornya, di dalam ekonomi politik tidak terlihat
adanya penyerahan otonomi politik maupun ekonomi di dalamnya, karena kembali
pada ruang lingkupnya, ekonomi politik berkutat pada tataran domestik saja,
berbeda dengan ekonomi politik internasional, dimana negara berusaha untuk
menggunakan powernya dalam rangka mempengaruhi rezim internasional,
dalam hal ini terkadang akan mengorbankan sebagian otonominya untuk diserahkan
pada pasar global. Dan perkembangan ekonomi politik internasional di dalam
studi hubungan internasional menggeser isu pokok seperti perang dan damai,
konflik dan kerjasama menjadi kekayaan dan kemiskinan, mengenai siapa
aktor-aktor yang terlibat dana apa yang mereka dapatkan pada sistem
internasional.
Referensi:
Gilpin, Robert. 2001. “The Nature of Political Economy”, dalam Global
Political Economy: Understanding the International Economic Orders. Princeton:
Princetin University Press, pp. 25-45.
Gilpin, Robert. 2001. “The Study of International Political Economy”, dalam
Global Political Economy: Understanding the International Economic Orders. Princeton:
Princetin University Press, pp.77-102.
Jackson, Robert & Sorensen, Goerg. 1999. Pengantar Studi Hubungan
Internasional. Oxford University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar